Rabu, 20 Maret 2013

Debar Dalam Debat



Sebelumnya, saya ingin mempertegas. Cerita dibawah ini saya bikin berdasarkan pengalaman seseorang. Saya tertarik menuangkannya dalam bentuk cerita karena menurut saya pengalamannya cukup unik. Saya juga sudah meminta izin untuk posting di blog pribadi saya, dan ternyata dia juga sangat semangat. Em, cerita ini juga sedikit saya kembangkan bersarkan pemahaman saya. So, buat si doi yang udah kebelet-banget-pengen baca, semoga tidak kecewa:D
-Cekidot-
----------------------------------------------------------

Bunyi bel terus berdentang. Kantin yang semula ramai kini telah sepi, hanya beberapa dari mereka yang masih terus bercengkrama tanpa memperdulikan waktu. Masih terasa geli di benakku, mengapa masih banyak siswa yang bertengger di ruang kecil ini? Bukankah waktu untuk bercengkrama sudah habis? Tiba-tiba aku tertawa kecil. Tanpa ku sadari, aku juga masih berada dalam satu ruangan yang sama dengan mereka.
“Kamu kenapa? Cengengesan sendiri?”
“Nggak. Aku hanya menertawakan diri sendiri.”
“Ih, gila!”
Begitulah respon yang ku terima atas tindakan aneh yang ku lakukan. Menertawakan diri sendiri. Huh, aku tidak pernah berubah.
“Masuk, yuk!  Gak enak sama guru, udah ada dalam kelas, tuh!”
Mataku segera melirik ruangan kelas yang pintunya telah tertutup. “Hey! Parah! Pintunya udah ditutup. Gimana, nih?”
Temanku yang sedari tadi telah berdiri di sampingku juga mengeluarkan ekspresi yang sama. Kaget, takut bercampur dengan khawatir yang menggelora. “Terus? Kita mesti ngapain sekarang?”
Ku tarik pergelangan tangannya. Langkahku dengan cepat menuju kelas. Sesekali ku telan air liurku, gerak refleks ketika nyaliku tiba-tiba menciut.
“Rin, yakin mau masuk? Gurunya killer, lho!”
“Yakin gak yakin, sih. Tapi dicoba saja, dulu.” Kataku mantap.
“Kayaknya udah gak ada harapan, deh. Kita gak mungkin dikasih masuk. Selama sejarah guru ini mengajar, dia gak pernah ngizinin murid yang masuk setelah dia masuk buat ikut pelajarannya.” Katanya. Kata-katanya membuat nyali ku benar-benar hilang. “Udah, kita gak usah masuk, deh.”
Ku tatap tajam teman sebangku ku itu. “Si, jangan ngomong gitu, deh. Harapan masih ada, kok. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mewujudkannya.”
Please, yah, Rin. Jangan ngeluarin gaya bicaramu yang kayak gitu, deh. Yaudah, kamu buktiin, ajah!” Tantangnya dengan muka judes kebanggaannya.
Nada bicaranya yang menantang, memancing semangatku. Aku memang cewek yang suka tantangan. Akan ku buktikan, di dunia ini tidak ada kata ‘gak punya harapan’ selagi kita mau mencoba.
Ku ketuk pelan pintu kelas yang tertutup rapat. Ketukan ku semakin keras terpacu oleh semangat untuk menunjukkan pada cewek ‘putus asa’ yang berdiri disampingku ini. Sebagai awalan ku ketuk tiga kali, namun tak ada respon apa-apa. Kembali ku ketuk dengan lebih keras. Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki yang menuju pintu. Ada keraguan dalam hatiku, tapi ku coba tepis.
Klek.

Pintu terbuka dengan pelan. Ku rasakan tangan Usi menggenggam lengan bajuku dengan kuat. Sementara aku, mencoba memasang wajah tegar pada guru killer yang mungkin saja akan mengusirku.
“Arindya Pratiwi dan Usi Wiyani. Berikan satu alasan mengapa kalian terlambat masuk?” Tuntutan itu segera terdengar ketika wajah Guru Bahasa Indonesia yang ditakuti seluruh siswa muncul dari balik pintu.
“Em, maaf pak. Saya dan Usi dari kantin.” Belum selesai ku lanjutkan jawabanku, mata beliau sudah hendak keluar dari tempatnya. Tatapannya bagai tombak panjang yang siap memukul mundur nyali kami. “Eh, saya hanya beli minum sebentar, pak. Tenggorokan saya sudah sangat kering, makanya...”
“Yah, silahkan masuk.” Jawabnya.
Hah? Aku nyaris tak percaya. Mataku memandang wajah Usi yang baru saja terlepas dari beban berat. Matanya juga menatapku, seolah tak percaya apa yang baru didengarnya.
“Bo, boleh masuk, pak?”
“Iya, silahkan masuk. Memangnya kalian tidak mau masuk?”
“Em, mau. Makasih, pak.”
Aku dan Usi berjalan cepat memasuki kelas. Terlihat wajah-wajah takjub teman-teman sekelas yang memandang kami. Rasanya mereka baru saja melihat seorang pawang Singa yang selamat dari malaikat maut.
“Gi, gila! Sumpah kamu tadi jago banget, rin.” Seloroh Usi begitu tubuhnya telah berhasil mencapai bangku.
Aku hanya tersenyum. Dalam hati, aku sangat-sangat tidak percaya akan keberuntungan ini. “Tuh, kan, apa  aku bilang. Tidak ada yang namanya ‘tidak punya harapan’.” Kataku mempertegas pendapatnya yang kini telah terpatahkan.
“Ini benar-benar keajaiban. Kita murid pertama yang bisa masuk setelah dia, tau?”
“Disitulah diliat. Manusia punya keberuntungan masing-masing. Dan kita boleh menarik kesimpulan, kita beruntung hari ini.”
Aku hanya dapat menatap penuh terima kasih pada guru Bahasa Indonesia ku tersebut. Wajah seram dan menakutkan yang dulu melekat pada dirinya, kini telah berganti dengan wajah teduh bak malaikat. Pak guru, kau tahu? Aku menyanyangimu. Batinku.
Pelajaran hari ini berjalan dengan sangat sukses. Sesukses hatiku yang telah melekat pada sang guru. Pandangan buruk tentangnya pun kini telah hilang tak berbekas.
“Arin, bisa keruangan bapak sekarang?” Suara Pak Handoko membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya, pak.” Jawabku singkat.
***

                Aku memasuki kelas dengan lesu. Masih terngiang jelas permintaan Pak Handoko yang tak bisa ku tolak. Bodohnya, aku! Mengapa menerima tawarannya? Aku terlalu tersentuh atas kebaikannya tadi, kebaikan yang ternyata berdasarkan alasan yang penuh tipu daya. Guru itu memang tak sebaik khayalan ku. Malaikat? Huh, dia terlihat lebih licik dari malaikat.
                “Rin, kamu kenapa? Wajahmu lesu sekali.” Tegur Usi. Ekspresinya terlalu ceria untuk menegur wajah terpuruk ini. Ku pikir, beruntung sekali anak ini. Ia selamat tanpa harus berkorban apa pun.
                “Gimana tidak lesu, si. Aku termakan tipu daya, Pak Handoko.”
                Wajahnya tiba-tiba berubah. Raut mukanya terlihat keruh ketika ku sertakan nama guru yang baru saja kami taklukan hatinya sebagai alasan kegundahanku. “Kok, bisa, sih? Aku tidak ngerti, rin.”
                “Ternyata Pak Handoko tadi itu baik, ada alasannya.”
                “Alasan apa?”
                “Ternyata alasan ia memaafkan kesalahan tadi adalah untuk merebut hatiku.”
                “Merebut hati? Pak Handoko nembak kamu, rin?”
                Wajah terpurukku berubat menjadi wajah kaget bercampur jijik. Demi apa, temanku ini bisa berfikiran seburuk itu?
                “Gila! Tidak lah. Pah Handoko menyuruhku untuk ikut debat Bahasa Indonesia. Jauh banget dari kata nembak-nembakkan.”
                “Ya ampun, rin. Gitu doang? Kamu bikin panik, deh. Kalau cuma disuruh ikut lomba debat kan tidak perlu bawa-bawa istilah ‘hati’, gadis polos mana pun akan mengira itu ada sangkut pautnya dengan cinta.” Jelasnya dengan alasan terkonyol yang pernah ku dengar.
                “Gadis polos? Hanya gadis bodoh yang berfikiran seburuk itu. Hanya mendengar kata ‘hati’ bukan berarti menjurus ke arah cinta.”
                “Tapi hati kan istilah cinta.”
                “Iya kalau anak alay jaman sekarang yang ngomong. Kalau anak berpendidikan dan dewasa kayak aku gak akan pernah menyamakan hati dengan cinta.”
                “Awas, kalau nanti kena cinta. Baru rasain deh itu rasanya hati yang menderita karna cinta.” Kalimatnya terdengar mengutuk seluruh tubuhku. Cinta? Aku tidak yakin cinta akan mendatangiku secepat ini. Aku masih kelas 1 SMA, tidak ada alasan cinta akan mendekati gadis dibawah umur sepertiku.
                “Udah, deh, si. Sekarang aku mesti ngapain, nih?”
“Yah, ikutin ajah apa maunya Pak Handoko. Toh, cuma disuruh ikut lomba debat, kan? Tidak disuruh lompat dari tebing?” Jawabnya yang berusaha melucu, tapi terdengar garing di telinga gadis yang sedang dilema ini.
“Masalahnya aku belum pernah ikut lomba sebelumnya. Bagaimana kalau aku gak bisa? Bikin malu-maluin ajah.”
“Makanya harus bisa, dong. Emang mau cuman bisanya malu-maluin. Kamu kan anak pintar, rin, masak gak bisa? Debat doang. Kamu hanya harus bicara keras dan menantang serta mengemukakan pendapat secara logis. Gitu doang, kan?” Kata-katanya terdengar seperti seorang motivator. Sayangnya tipe cewek labil inilah yang saat ini berbicara dengan lantang dihadapanku. Kalimatnya tidak sepadan dengan karakter aslinya.
“Kamu tidak tahu, sih. Beda kali rasanya debat kayak gitu sama debat abal-abal sama kamu.”
“Tapi, kan, sama. Pada ujungnya mengeluarkan pendapat yang berbeda.”
“Tapi... aku benar-benar ragu.”
“Udah, jalanin ajah dulu. Biarkan angin mengantarmu pada takdirmu.”
Tanganku secara refleks mencubit pipinya. Dia berbicara terlalu santai atas apa yang tidak dipahaminya secara tuntas.
“Udah. Aku percaya kok, padamu.” Katanya yang sedikit memberiku semangat.
***
Aku terus menerus melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tanganku. Jarum pendeknya telah sedikit melewati angka empat. Sore ini Pak Handoko memintaku datang untuk persiapan lomba. Sesuai kesepakatan, jam tiga adalah waktu pertemuan; dan aku telah terlambat satu jam. Aku dengan cepat menuju lab Bahasa yang terletak di lantai dua. Nafasku terpenggal-penggal, keringat telah membasahi sebagian bajuku. Ku lihat tubuhku dari jendela ruangan sebelum lab. Rambut acak-acakan tertiup angin. Baju yang kusut. Keringat yang belepotan. Tuhan, aku benci keadaan ini!
Ku ketuk pelan pintu lab. Ku lihat Pak Handoko dengan muka kusam menatapku. Sepertinya ia ingin segera melempar tubuhku dari lantai dua.
“Telat satu jam lima belas menit, Arin.”
“Maaf, pak. Saya ketiduran.”
Alasan saya direspon dengan gerak tangannya yang mempersilahkan duduk. Aku mencari tempat duduk yang menurutku paling nyaman. Yaitu duduk disamping senior yang telah ku kenal lebih dulu. Ternyata hanya aku sendiri yang masih berstatus kelas sepuluh. Lima orang lainnya adalah senior-senior dengan kemampuan debat yang luar biasa. Mereka adalah Arya, Randi, dan Gilang yang berstatus kelas dua belas. Andri yang masih kelas sebelas. Dan seorang lagi yang tak ku ketahui jati dirinya. Aku mengambil tempat duduk disamping kak Arya, karena hanya dialah senior yang paling dekat denganku.
“Satu jam telat, kamu orang pertama yang bikin pak Handoko menunggu.” Tegur kak Arya. Huh... ayolah! Cukup dengan gelar ‘orang pertama’ yang penuh sangkut paut dengan Pak Handoko. Aku masih merasa kesal saat mengingat kata-kata pak Handoko tadi siang.
“Arin, kamu ikut lomba debat Bahasa Indonesia, yah?”
“Lho, kamu pasti bisa. Kamu anaknya pintar, kan?”
“Tidak ada alasan! Kamu harus ikut.”
“Saya sudah memaafkan kamu untuk masalah tadi. Harusnya kamu menebusnya dengan ikut lomba ini.”
“Sudah. Kamu ikut. Jam 3 sore datang di lab.”

Sungguh keputusan sepihak yang tak bisa ku tentang.
Pak Handoko membagikan selembaran yang nantinya akan menjadi materi debat kami. Sebelumnya kami dibagi atas dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Kak Arya, kak Randi dan Kak gilang. Sedangkan kelompok kedua, terdiri dari aku, kak Andri dan senior misterius yang belum ku tahu namanya. Wajahnya yang oriental, sangat mendukung pribadinya yang kalem-kalem misterius. Dan entah kenapa, sosoknya justru memancing rasa penasaranku. Sosok di pojok yang begitu dingin itu siapa, yah? Namanya? Kelasnya?
Aku ingin berdiskusi tentang materi pada anggota kelompokku. Aku mencoba bertanya pada Kak Andri yang ternyata jauh lebih ramah dari penampilannya. Dari kak Andri pulalah aku mengetahui nama senior yang selalu diam dan terlihat sangat fokus itu. Gunawan, kelas dua belas.
Namanya.
Kelasnya.
Sosoknya.
Wajahnya.

Sore itu bimbingan selesai lebih cepat. Pak Handoko menutup pertemuan sore itu dengan kalimat-kalimat yang cukup membangkitkan semangat dan rasa percaya diriku.
“Saya yakin kalian bisa. Buktikan kalau kalian benar-benar siswa kebanggan sekolah yang memang dan pantas untuk dibanggakan. Saya tidak ingin melihat bakat-bakat dan potensi yang kalian miliki terkubur begitu saja. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya harap kalian dapat mengeluarkan bakat yang memang harus kalian asa dan tunjukkan.”
Bakat? Potensi? Baiklah, ini tidak seburuk dugaanku.
Sore itu aku cukup banyak menerima pengalaman baru. Termasuk pengalaman-pengalaman dari senior-seniorku yang telah sering kali mengikuti lomba-lomba serupa. Aku yang awalnya hanya murid biasa yang mencoba menjalani hari-hari ku di sekolah, sore ini dapat merasakan asiknya bertukar cerita dengan senior-senior kebanggan sekolah. Tapi tidak seperti senior-senior lainnya, kak Gunawan lebih banyak diam. Ia terus fokus pada lembaran berisikan materi. Matanya terus menerus tertuju pada kalimat-kalimat perparagraf itu. Bibirnya sesekali ikut bergerak merapalkan kata perkata yang dibacanya. Wajahnya terlihat sangat fokus; dan itu menggodaku.
“Serius amat, kak?” Celetukku sembari ikut melirik kertas di genggamannya. Aku berharap ada sahutan yang sekiranya dapat menebus penasaranku akan suaranya yang sepertinya sangat mahal untuk ia keluarkan. Alih-alih mendapat balasan, ia tak sedikitpun menoleh ke arahku. Apa suaraku tak cukup keras? Apa telinganya tak bisa menangkap gelombang suaraku? Apa otaknya terlalu terfokus sehingga menulikan kerja telinganya? Aku sedikit kecewa. Ini pertama kalinya seorang pria bersikap begitu cuek padaku.
Aku segera mengambil langkah seribu menjauh darinya. Untuk apa ikut memperhatikan cowok yang punya level cuek setinggi gunung himalaya itu?
“Kenapa? Wajahmu ko kesal begitu? Dicuekin Gunawan, yah?” Tegur kak Arya padaku yang baru saja menggulung bibir.
“Kok ada yah cowok yang cueknya kayak gitu?”
“Dia emang gitu. Kalau udah fokus ke suatu hal, susah buat berhenti. Itu yang membuatnya jadi salah satu murid kebanggan sekolah.”
“Oh, dia murid kebanggan sekolah juga? Kok aku gak tahu? Lagian wajahnya jarang banget ku lihat.”
“Kamu kan masih kelas satu. Yah, pantas saja kalau jarang liat. Dia orangnya agak pendiam juga. Em, kali ajah.”
“Kok, kali ajah?”
“Yah, soalnya gak akrab-akrab juga. Gimana? Mau pulang?”
Aku refleks melihat jam. Waktu sudah menginjak jam enam. “Iya.” Jawabku singkat.
***
Sore ini aku datang lebih tepat waktu, meskipun masih telat lima belas menit. Dan sepertinya kali ini Pak Handoko maupun anggota debat yang lain sudah bisa menerima kebiasaanku yang selalu jam karet. Namanya juga cewek, yah? Banyaklah halangan biar gak tepat waktu. Tidak perlu berlama-lama. Kali ini kami dituntut untuk lebih aktif mencari materi dan bahan sendiri. Berbekal laptop dan jaringan wifi sekolah. Aku segela menjelajahi dunia internet dengan nyaman.
“Gimana materinya? Perlu bantuan?” Tanya Kak Arya ketika air wajahku mendadak berubah.
“Materinya udah ketemu. Tapi gak tahu ini koneksinya mendadak lambat.”
“Oh, coba pindah ke dekat jendela di sana. Sapa tahu bisa lancar lagi.” Tunjuknya pada bangku yang terletak di dekat jendela. Wajahku dengan cepat menghadap ke arah telunjuknya. Bangku dan meja kecil yang merapat ke arah jendela. Di sampingnya, duduk seorang cowok yang masih terlihat fokus dengan layar laptopnya. Tuhan, jangan dia lagi. Batinku.
“Gak ah, palingan bentar lagi lancar.” Tolakku halus untuk saran kak Arya. Aku tidak mau duduk bersebelahan dengan cowok yang lebih mirip patung dibanding manusia.
“Kenapa? Takut sama Gunawan, yah? Dia baik, kok.” Kata kak Arya yang sepertinya tahu alasan utamaku enggan berpindah posisi.
“Ah, tidak. Tuh, jaringan lancar lagi, kok.”
“Oh yaudah.”
Aku kembali mencari materi. Namun belum beberapa menit, koneksi mendadak lambat lagi. Aku melihat jam dinding. Waktu sudah hampir habis, kalau tidak cepat materinya tidak bisa dibahas. Dengan berat hati aku berpindah posisi. Semula aku duduk bersampingan dengan senior baik hati, kini harus bersampingan dengan senior berhati beku.
“Misi, kak.” Tegurku ketika berusaha mengambil posisi duduk disampingnya. Seperti biasa, tak ada respon.
Aku kembali mengutak-atik laptop. Tidak sesuai harapan. Koneksinya tetap saja lambat. Aku mulai kesal. Jariku mengetuk-ngetuk kasar pada tombol keyboard dan menimbulkan bunyi yang menurut kak Gunawan cukup ribut.
“Dik, bisa tenang?” Tegurnya.
Aku sudah kesal, malah dibikin kesal lagi. Aku hanya tersenyum kecut ke arahnya. “Yaps, maaf.”
Sudah setengah jam aku terus menunggu koneksi yang tak kunjung membaik. Mulutku sudah mengerucut dengan dagu yang bersandar pada punggung tangan.
“Kenapa?” Tiba-tiba konsentrasinya teralihkan padaku. Aku cukup kaget, tak menyangka akhirnya suara emasnya itu berkenan menegurku. Aku masih terdiam beberapa saat sebelum menjelaskan alasan kekesalanku.
“Koneksinya mendadak lambat.”
“Oh, coba pakai laptopku. Dari tadi koneksinya lancar-lancar saja.”
Aku sedikit kaget. Kemana sosok cueknya yang kemarin menghantam perasaanku?
“Kakak nanti pakai apa?”
“Sudah selesai materinya. Kamu pakai saja.”
Seperti diterpa angin semilir perasaanku. Ternyata sosok cuek yang kemarin hanyalah berlaku ketika fikirannya benar-benar fokus. Di saat santai, ia tetap jadi cowok perhatian dan baik hati. “Terima kasih, kak.”
***
Aku masih sibuk membaca bahan materi. Lusa adalah hari dimana lomba debat yang sempat membuatku putus asa akan berlangsung. Dan saat ini aku baru menguasai setengah dari materi yang diberikan. Bola mataku bergerak kesana kemari mengikuti kalimat yang ku baca. Tiba-tiba bola mataku berhenti bergerak. Aku tersenyum kecil ketika sampai pada materi yang baru saja ku cari tadi sore. Masih teringat jelas, wajah Kak Gunawan yang begitu sabar membantuku mencari materi. Ia bahkan dengan senang hati mengajariku beberapa hal yang tidak ku mengerti.
Mendadak bayangan wajahnya memenuhi kepalaku. Materi debat seperti tenggelam tergantikan dengan bayangan wajah yang terlihat sangat fokus. Sorot mata yang kaku, serta air wajah yang tenang. Mengapa begitu mempesona?
Ah, mempesona? Tanganku memukul kepalaku. Menyadarkanku dari lamunan konyol yang baru saja aku rasakan. Ia tidak se-mempesona itu, kan? Ia hanya terlihat mengagumkan ketika wajahnya fokus. Yah, hanya itu. Tidak ada yang spesial. Tapi, kenapa mendadak merindukannya? Aku jadi ingin melihat wajahnya lagi. Mendengar suaranya lagi. Aku rindu saat-saat ia menjelaskan suatu hal padaku. Kata-katanya kaku, suaranya pelan, pandangannya halus, dan aku mengaguminya. Ah! Mengagumi? Apa tidak terlalu cepat untuk menarik kesimpulan bahwa aku mengaguminya? Kemarin ia memperlihatkan sosok yang sangat cuek padaku. Hari ini sosok itu seperti terhapus oleh segurat senyum dan segudang kebaikan yang diperlihatkannya. Apa cowok selalu begitu?
Apa yang ku pikirkan? Harusnya malam ini aku fokus pada materi debat. Dua hari lagi. Yah, tinggal dua hari lagi. Tidak perlu membuang-buang waktu untuk memikirkan orang yang belum tentu memikirkanku. Yah, tidak perlu.
Aku mencoba kembali fokus. Membaca dengan tenang. Berusaha tidak memikirkan hal lain. Yah, harus fokus. Disaat aku mencoba fokus, bayangan wajah yang terlihat fokus kembali menggangguku. Wajah tenang itu kembali berputar-putar di kepalaku. Apa ini? Aku belum pernah mengalami khalusinasi seperti ini. Khalusinasi? Tidak. Ini bukan khalusinasi. Ini lebih tepat disebut, gejala awal merindukan seseorang. Aku merindukannya? Yang benar saja. Aku hanya terlalu fokus dan kebetulan mengingat wajah seseorang yang selalu fokus pada sesuatu hal. Yah, pasti hanya itu. Pasti itu alasannya, mengapa wajahnya tiba-tiba muncul dalam benakku. Yah, pasti. Hanya itu.
Aku menutup laptopku. Beranjak pelan menuju tempat tidur. Materi sepertinya tak ada yang masuk dalam ingatanku. Aku tak bisa fokus, ketika wajahnya muncul lagi. Wajah yang baru saja kemarin ku temui; wajah Gunawan. Aku menarik selimut. Menutup seluruh tubuhku, tak terkecuali wajahku. Aku berusaha menutup mata. Berusaha melupakan kejadian sore ini, termasuk bayangan wajah Gunawan. Semakin ku pejamkan mata. Bayangannya justru semakin jelas. Dalam gelap, hanya wajahnya yang terlihat jelas. Semakin kuat ku pejamkan mata, semakin kuat pula ingatanku tentangnya.
Aku kembali membuka mata. Apa tadi itu mimpi? Bukan. Ia masih ada dalam fikiranku, sampai sejauh ini. Apa ini? Aku merindukannya? Tidak. Ku mohon, jangan dia.
***

Hari ketiga. Sehari sebelum hari yang ditunggu-tunggu. Aku kembali gugup. Rasa ragu kembali mengorogoti jiwaku. Aku kembali merasakan perasaan takut dan khawatir. Aku takut tak bisa memberikan yang terbaik, seperti apa yang Pak Handoko inginkan. Aku khawatir, semua tak akan berjalan seperti apa yang ku harapkan. Aku beberapa kali mencubit bibirku, kebiasaanku yang selalu timbul saat ketakutan.
“Kenapa?” Tegur kak Arya. Seperti biasa. Hanya dia yang selalu memperhatikanku. Hanya dia yang mau mengobrol dengan junior sepertiku. Hanya dia yang selalu baik padaku.
“Tidak. Hanya mendadak gugup kalau sadar besok sudah harus lomba.”
“Sudah, santai saja. Dulu saya juga begitu. Pertama kali memang berasa takut, maklum namanya juga pertama kali. Tapi pas sudah coba, rasanya tuh asik. Ada tantangan tersendiri.”
Telingaku sedikit terusik mendengar kata tantangan. Yah, ini tantangan baru bagiku. Sesuatu yang belum pernah ku coba. “Pertama kali ikut debat, kakak ngelakuin kesalahan, gak?” tanyaku.
“Yah, sedikit sih. Karena terlalu gugup, kakak jadi gak bisa ngomong apa-apa.”
Keberanianku kembali terkikis. “Kak, kalau saya juga ngelakuin hal yang sama, gimana?”
“Lho, tidak apa-apa. Kamu kan baru. Tapi usahakan jangan sampai ngelakuin.”
Huh. Aku hanya menghela nafas. Berharap kejadian seperti itu memang tidak akan terjadi.
“Tapi kamu senangkan ikut debat?” Tiba-tiba kak Arya menuturkan pertanyaan yang enggan sekali ku jawab.
“Senang gak senang, sih.”
“Lho, kenapa?” Kali ini kak Randi yang selama ini selalu diam, merasa tertarik dengan jawabanku.
“Soalnya lima puluh persennya, paksaan dari pak Handoko.”
“Kalau gitu mending ditolak dan tidak usah ikut.” Kalimat sinis itu keluar dengan lancar dari bibir Kak Gunawan. Pernyataannya sedikit membuatku pesimis. Apa benar dia cowok yang semalam mengganggu tidurku? Sepertinya ia jauh dari bayangan yang semalam.
“Huh, gak enak kalau mau nolak permintaan guru.”
“Dari pada terpaksa mending ditolak. Mengerjakan sesuatu hal yang setengah-setengah itu akan memperoleh hasil yang setengah-setengah pula.”
Huh. Telingaku seperti kemasukan besi panas. Lelaki ini berbicara seolah-olah dari awal aku hanya punya pilihan untuk mundur tanpa bisa maju selangkah pun. “Tapi keinginan yang setengah-setengah itu kalau dijalani dengan semangat, bisa membuahkan hasil yang lebih dari setengah-setengah.” Jawabku dengan sedikit ragu. Berharap kata-kataku tak membuatnya kembali menjadi sosok yang cuek.
“Niat kalau hanya dilalui dengan semangat bukan berarti akan sepenuhnya berhasil.”
Aku semakin terpacu untuk membungkam mulutnya itu. Ia terus menerus membuatku lemas dengan kata-katanya yang cukup meremehkan. “Kita buktikan saja. Percuma bicara panjang lebar kalau toh tidak bisa dibuktikan.” Tantangku. Kalimat penuh percaya diri yang ku lontarkan, cukup membuatnya diam. Cowok memang ada baiknya kalau banyak diam. Setidaknya diam ternyata lebih cocok untuk tipe cowok yang suka berubah kepribadian kayak dia.
Huh, orang ini. Apa yang ku lakukan semalam? Melamunkan dia yang sama sekali tak pernah menaruh rasa simpati padaku? Apa aku pernah berbuat salah hingga ia begitu membenciku?

Waktu bisakah kau berjalan lebih cepat? Aku muak terus berada di dekatnya. Berada di dekat orang yang tak bisa menunjukkan sikap baik padaku.
***

Sinar mentari jauh lebih hangat pagi ini. Sayangnya sinar hangatnya tidak mampu menghangatkan perasaanku. Sejak semalam, aku terus digonjang rasa takut. Aku terlalu bersemangat mengeluarkan tantangan pada kak Gunawan. Bagaimana kalau aku tak mampu menebus kata-kataku sendiri? Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan? Bagaimana kalau perkataannya benar. Niatku yang setengah-setengah malah menuai hasil yang setengah-setengah pula. Bagaimana aku harus melalui saat-saat yang mampu membuatku berdebar-debar?
Aku terus menerus memegang dadaku. Jantungku berdegup sangat kencang. Terakhir kali merasakan debaran yang sekuat ini, saat menjelang UN SMP. Aku beberapa kali menarik nafas, menciptakan rasa nyaman untuk diriku sendiri.
“Ini permen. Biar tenang.” Suara itu berubah lagi. Nadanya tak terdengar datar lagi, tak terdengar sinis lagi. Lebih tenang, lebih menenangkan.
“Kak Gunawan? Ngapain disini? Bukannya tadi pergi cari minum?”
“Malas. Yang pergi mereka saja.”
“Oh.”
Debaran dan rasa gugupku mendadak hilang. Degup jantung yang tadinya begitu cepat, kini menjadi lebih pelan. Apa ini? Kak Gunawan membuatku merasa nyaman? Ia membuatku tenang?
“Kenapa?” Tanyanya ketika melihat ekspresiku yang terus menerus menatap wajahnya.
“Em... ti, tidak.”
“Oh, yasudah permennya dimakan. Jangan Cuma dipegang.”
Aku melirik permen yang berada dalam telapak tanganku. Permen pemberiannya. Apa boleh ku makan? Kalau bisa, aku ingin menyimpannya.
“Kenapa? Tidak suka?”
“Eh, tidak. Nanti deh, saya bakal makan kok.”

Perasaan mendadak tenang begitu dia berada di dekatku. Berbicara dengannya, membuatku begitu gugup. Aku seperti kehabisan kosakata ketika berbicara dengannya. Apa ini? Apa boleh ku sebut kagum? Apa boleh ku panggil suka? Apa ini?

Pak Handoko berjalan pelan ke arahku. Ia memberi instruksi melalui isyarat, yang menyatakan kami harus segera bersiap karena waktu sudah menunjukkan jam delapan.
“Jangan tegang, yah.”
Katanya sebelum ia berjalan meninggalkanku. Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku hanya bisa mengucap, “Terima kasih untuk rasa nyamannya.”

Aku berusaha tetap tenang. Berharap tak ada kesalahan apapun. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Aku terus berdoa. Berdoa membuat perasaanku menjadi tenang. Setidaknya saat ini aku merasakanNya melindungiku.
“Sudah tenang saja. Aku percaya kamu bisa.” Kata Kak Gunawan. Tangannya memegang pundakku. Matanya menyipit, tersenyum padaku.
Perasaan dingin dan tenang menjalar di hatiku. Sentuhannya seperti magis yang mendinginkan segala keraguan yang ku rasakan. Senyumnya mencairkan ketakutan yang membekukanku. Suaranya menenangkan gejolak aneh di jiwaku. Apapun yang ia lakukan, ia mampu membuatku merasakan ketenangan. Apa ini? Cintakah? Ia mampu meredam segala rasa khawatirku. Cintakah? Tapi, aku tak percaya cinta akan mendatangiku secepat ini. Apa benar cinta?
Debat berjalan sangat lancar. Aku tak merasakan ketakutan, gugup dan khawatir yang dulu selalu menghantuiku. Ketika aku merasakan ragu, ia seperti memberiku semangat dan keberanian tersendiri lewat tatapannya. Tatapan hangat seperti cahaya kecil. Cahaya yang mereka sebut Cinta.
“Kalian luar biasa! Bapak bangga.” Kata Pak Handoko berapi-api. Wajahnya sumringah tak menentu. Kami hanya bisa tersenyum. Aku jelas sangat bangga pada diriku sediri. Ini pengalaman pertama yang sangat aku banggakan. Debat pertama yang memberiku pengalaman lain. Debat yang mempertemukanku dengan sosok yang tak pernah ku ketahui. Debat yang membuatku merasakan apa yang tak pernah ku rasakan. Debat yang menimbulkan debar yang berbeda. Debar dalam debat.
Aku sedikit bersedih. Setelah kami bubar dari tempat ini, apa aku masih bisa merasakan debaran ini? Masih bisa melihat wajah yang membuatku berdebar seperti ini? Apa masih bisa?
Kami kembali pulang. Semua orang tersenyum. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Semua orang bahagia. Dan aku juga bahagia; kebahagiaan yang membuatku turut bersedih.

Apa bisa aku merasakan saat-saat seperti ini lagi? Saat dia dengan pelan memberiku perasaan tenang. Apa bisa?
Apa harus berakhir dengan seperti ini? Aku kembali ke kehidupanku. Dia kembali ke kehidupannya. Kembali ke kehidupan masing-masing. Dimana dia. Dimana aku.
Kita berakhir dengan kembali, aku tak mengenal dia dan dia tak mengenal aku.

Selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar